“RUMAH TERKAYA, RUMAH TERMISKIN”

Ini adalah rating  no.1 rumah terkaya di  dunia, punya bos Microsoft,  Bill Gates. Rumah dengan luas 66.000 kaki persegi dibangun menjadi sebuah bukit di tepi Danau Washington, dekat Seattle. Didalamnya ada kolam renang seluas 60m2 dengan sistem musik bawah air, 2500 kaki persegi lapangan olahraga dan 1000m2 ruang makan malam. Bisa kita bayangkan, bahagia banget kali ya bisa tinggal di rumah kaya gitu walaupun cuman satu malam?.

Tapi coba kita lihat lagi gambar di bawah ini,

Coba lihat kawan, sebuah gubuk reyot di tengah hutan. Ini kisah nyata, siapakah penghuni rumah ini?.

Namanya Emir, seorang anak yang kakaknya sudah berhenti bekerja, ibunya sakit-sakitan dan ayahnya sudah lama meninggal dunia karena sakit batu ginjal yang parah, namun anak itu masih punya nenek yang masih sangat kuat membantu kebutuhan rumah tangga mereka. Selain karena cinta yang dalam, juga karena nenek punya keahlian membuat kue brownies kukus yang lezat diseluruh desa sehingga nenek masih mampu membantu mencari makan untuk membantu keluarga kecil itu.

Lihatlah surat yang disampaikan oleh anak laki-laki berusia 8 tahun ini, yang menuturkan kisah hidupnya pada sebuah acara baksos di desa Megamendung, yang diselenggarakan untuk rakyat miskin.

Tadinya kakak dengan pekerjaannya sebagai kasir di restoran Sunda, masih mampu membantu membiayai rekening listrik dan membeli beras, namun setelah restoran Sunda tempat kakak bekerja kena gusur Pemda yang katanya untuk membuat kantor kelurahan di kampong itu, kakak betul-betul menganggur dan setiap harinya kerjanya hanya membantu nenek mengocok telur untuk membuat brownies kukus.

Perlu diketahui, brownies kukus bukanlah makanan utama penduduk desa atau penduduk kota kecil seperti Megamendung. Butuh tiga jam perjalanan dari desa Emir ke tempat ia menawarkan brownies kukus nenek, sehingga ia merasakan kehidupan keluarganya yang susah sekali. Apalagi setelah tiga bulan ini listrik diputus, mereka tidak lagi memiliki baju yang licin disetrika, dan semua pekerjaan rumah, seperti mencuci, membuat kue, maupun pekerjaan sekolah, harus mereka lakukan di siang hari.

Penderitaan dan kemiskinan terus melanda keluarga Emir, sampai kakak akhirnya nekat mendaftarkan diri ke agent TKI untuk menjadi pembantu di Arab Saudi, Hongkong atau Malaysia. Kakak pun sudah mulai belajar bahas Arab, ”Ma hadza? Ana …” dan sedikit sedikit bahasa Malaysia, “ Iye ke? Sikit saja, tahu? Awak nak ke?”, dan sesekali kami tertawa gembira mendengar logat kakak bicara bahasa Melayu yang sungguh lucu, dalam keadaan perut keroncongan di tengah malam yang gelap tanpa penerangan sedikit pun, kecuali secercah cahaya rembulan dari balik jendela yang kami buka lebar, untuk sedikit melepas kesumpekan di dalam rumah.

Sedikit harapan kakak akhirnya sirna, ketika muncul isu “Ganyang Malaysia” membuat imigrasi Malaysia dan Indonesia menutup saluran tenaga kerja dari Indonesia ke Malaysia dan kakak harus menunggu lagi dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Hal ini membuat kami menjadi semakin sedih, karena bayangan kelaparan dan kemiskinan selalu terbayang di depan mata, ditambah lagi brownies kukus nenek manjadi semakin sukar terjual, karena sudah banyak pesaing, juga harga telur dan terigu yang meroket tinggi. Maka, terkadang berhari-hari kami makan brownies kukus nenek yang tidak laku. Pada saat tidak punya apa-apa itulah, kami sekeluarga berpelukan dan merasakan bahwa kami adalah orang termiskin di indonesia, sampai akhirnya …

“ Kak … kakak … aku disuruh guruku membawa barang apa saja untuk diberikan pada orang miskin, pada acara baksos besok,” kata Emir dengan wajah berbinar-binar. Ia mendatangi kakaknya yang sedang membersih kutu beras raskin yang dibelinya tadi pagi setelah menjual sepatu olahraga Emir.

“Dik, dik, kamu ini lucu, apa kamu enggak merasa bahwa kita ini juga orang miskin? Apa yang mau kita sumbangkan untuk acara baksos orang miskin, malah seharusnya kita yang diberi baksos,” jawab si kakak dengen tenang tapi dengan sedikit linangan airmata ditepi pipinya.

Tiba-tiba, nenek dengan gayanya yang lembut berkata, “Dik, kamu ambillah ini yang kita punya, satu buah payung, dua buah gelas plastik, satu brownies nenek dan lima sachet kopi. Janganlah kita merasa terlalu miskin, sehingga kita tidak mau bersedekah kepada orang miskin di sekitar kita. Sampai saat ini, kita pun tak tahu siapa yang lebih miksin dari kita. Namun selama kita masih punya sesuatu yang dapat kita berikan, jangan ragu untuk bersedekah.”

“Hitam putih dunia, itulah kehidupan selalu ada sesuatu yang menyeimbangkannya. Dikeseharian hidup, sesekali kita dihadapkan pada kondisi dimana kita ingin sekali meraih sesuatu, sesuatu yang besar. Punya rumah mewah, mobil mewah, uang berlimpah. Keinginan yang besar itu wajar. Itu memacu semangat kita untuk lebih baik dari sekarang, akan tetapi kita seyogyanya tak selalu memandang ke atas. Tengoklah juga ke bawah, di sekitar kita masih banyak yang lebih susah dari kita. Rumput di pekarangan orang selalu tampak lebih bagus. Jadi janganlah kita berfokus pada apa yang ingin kita raih, tapi fokuslah pada apa yang sudah kita miliki. Itulah esensi “bersyukur”. (aditric.red)

Iklan

9 Tanggapan

  1. Posting yang menarik, semoga sukses.
    Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru hari ini berjudul : “Wisata kepulau Bali”, serta artikel lain yang menarik, dan kalau berkenan mohon diberi komentar. Terima kasih.

  2. Posting yang sangat menginspirasi, saya baru tahu kalau Bill Gates punya rumah segede itu.Boleh saya sharekan?

  3. sangat boleh, mudah2an bisa jadi bahan inspiratif bro wen. saya akan balas berselancar ke blog anda..

  4. Kehidupan yg sangat kontras sebaiknya Bill Gates & Emir ikutan acara TV “Tukar Nasib”. Salam kenal, silahkan kunjungi blok kami http://skbjepara.wordpress.com. Mohon diberi komentar. Trim’s

    • ahaa… setuju, bisa jadi setelah bill gates ikut acara tukar nasib setengah dari hartanya disumbangkan buat anak2 gak mampu seperti emir?

  5. di dunia ini segalanya serba berlawanan, namun itulah uniknya,kalau kaya semua ,kita gak bisa bersedekah, kalau miskin semua, siapa yg mau membeli barang2 produksi?
    salam

  6. tenkyu is too doy

  7. lhaa..terus yang bantu kehidupan emir siapaa…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: